..

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

My Blog List

Diberdayakan oleh Blogger.

About me

Foto saya
blitar, jawa timur
Rekod Vindiana itulah nama lengkap aku yang benyak teman ku memenggil Rekod, tak sedikit pula yang memanggil aku Vindi,, Aku lahir di Blitar tgl 2 Mei 1993. aku anak nomer 1 dari 3 bersaudara....

3 Pertanyaan untuk Sang Pemimpi



Wawancara dengan Mira Lesmana dan Putut Widjanarko

12/21/2009 12:11:11

Film Laskar Pelangi memecahkan Rekor Penonton terbanyak film Indonesia. Tapi setelah itu apa? Apa yang dikejar oleh Sang Pemimpi? Angka yang lebih besar? Pada penonton, pada biaya, atau pada apa? Dua produser Sang Pemimpi memberi jawaban.

Selain tantangan membuat sequel, apa yang menurut anda menjadi alasan Sang Pemimpi harus dibuat?

Putut Widjanarko: Seperti halnya ketika memproduksi Laskar Pelangi, kami yakin memiliki cerita yang kuat, inspiratif. Kami ingin memperluas daya jangkau pesan-pesan inspiratif (persahabatan, semangat belajar, pengabdian guru) serta pesan sosial (marginalisasi masyarakat lokal karena persaingan korporat, pentingnya pendidikan) yang terkandung dalam Laskar Pelangi, dan juga kemudian Sang Pemimpi.
Mira Lesmana: Miles sebenarnya menghindari untuk membuat sekuel. Pengulangan tak menarik. Tapi khusus Sang Pemimpi kasusnya lain. Kami membuat Sang Pemimpi sampai Edensor, itu kita putuskan untuk kita ambil sejak awal. Maryamah Karpov belum karena waktu itu novelnya belum jadi kan? Bagi Riri (Riza) film ini juga tantangan. Bagi seorang filmmaker mungkin tantangannya adalah untuk mengikuti karakter dalam periode yang berbeda. Truffaut pernah melakukan itu dengan seri Antoine Daniel. Satyajit Ray juga pernah. Mungkin ini yang menarik sebagai tantangan. Lagipula materi cerita untuk sekuel film ini sudah siap. Mirip seperti Twilight, Harry Potter atau Lord of the Rings.

Menurut Anda, apakah biaya 12 milyar untuk sang pemimpi mahal?

Mira Lesmana: Mahal. Kalau boleh menjawab dengan jujur, Sang Pemimpi seharusnya dikerjakan dengan lebih murah, karena projection segment-nya lebih kecil, segmen remaja. Sedangkan Laskar Pelangi segmennya keluarga, yang penontonnya lebih besar. Seharusnya film ini dibuat dengan biaya lebih rendah daripada Laskar Pelangi. Tapi materinya sulit. Karena tuntutan cerita dan skenario, Sang Pemimpi lebih kaya akan event. Lokasi dan penggambaran event itu menuntut banyak, termasuk shooting underwater. Namun kita berhasil menurunkan dari budget 12,250 milyar ke 12 milyar pas. Kita menghemat 250 juta.
Putut Widjanarko: Secara absolut memang biaya tersebut relatif mahal. Itu pun kami, para produser, sudah melakukan upaya menekan biaya sebisa mungkin. Kami beruntung ada beberapa pihak yang percaya kepada Sang Pemimpi, ikut serta menanggung biaya produksi itu sehingga memungkinkan diproduksinya Sang Pemimpi. Laskar Pelangi jadi film terlaris Indonesia.

Apakah dengan Sang Pemimpi Anda sedang mengulangi formula yang sama (dengan tim yang sama). Kalau tidak, apa sumbangan baru Sang Pemimpi?

Putut Widjanarko: Pada prinsipnya sama, tim produksinya sama, dengan sedikit perbedaan. DOP-nya sekarang Gunnar Nimpuno, dulu Yadi Sugandhi.
Mira Lesmana: Kita tak berpikir untuk menggunakan formula yang sama. Kita ingin menampilkan sesuatu yang baru. Namun karena kisah lanjutan Laskar Pelangi dan lokasinya di Belitong, mungkin ada feel yang sama. Ada perasaan sama dalam soal look dan visual. Perbedaannya, film ini menceritakan masa remaja, maka jadi lebih dinamis. Tapi tak berarti lebih ringan. Kota yang dipakai juga beda dengan Manggar, kota untuk Laskar Pelangi. Maka secara visual juga tak seindah Laskar Pelangi, secara panoramik. Lebih panas dan lebih kasar. Tapi secara umum kelembutannya, puitisnya dan nuansa Melayu dalam film ini bisa dibilang masih sama dengan Laskar Pelangi.

0 komentar:

Posting Komentar

  © NOME DO SEU BLOG

Design by Emporium Digital